Lebih dari 10 Tahun Mengabdi, Empat Pegawai KONI NTT Mengaku Dipecat Tanpa Alasan Jelas


 Kupang – Polemik internal di tubuh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nusa Tenggara Timur kembali mencuat ke publik. Empat pegawai yang telah mengabdi lebih dari satu dekade mengaku diberhentikan secara sepihak tanpa penjelasan yang jelas dari pihak pengurus.

Keempat pegawai tersebut menyampaikan kekecewaan mereka dalam sebuah pertemuan bersama sejumlah pihak. Mereka menilai keputusan pemberhentian tersebut tidak disertai alasan resmi maupun mekanisme yang transparan, padahal selama bertahun-tahun mereka aktif menjalankan tugas dan mendukung berbagai kegiatan olahraga di NTT.

Salah satu pegawai mengungkapkan bahwa selama bekerja di KONI NTT, mereka telah melewati berbagai dinamika organisasi dan tetap menjalankan tanggung jawab dengan loyalitas tinggi. Namun secara tiba-tiba, mereka menerima keputusan yang dianggap tidak manusiawi dan mencederai rasa keadilan.

Menurut pengakuan mereka, tidak pernah ada evaluasi terbuka, surat peringatan, maupun penjelasan rinci terkait alasan pemberhentian. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai tata kelola internal lembaga olahraga tersebut.

Kasus ini pun memantik perhatian publik, terutama karena KONI merupakan lembaga yang selama ini menjadi wadah pembinaan olahraga dan atlet di daerah. Banyak pihak berharap persoalan ketenagakerjaan di dalam organisasi dapat diselesaikan secara profesional serta mengedepankan asas keadilan dan kemanusiaan.

Para pegawai yang diberhentikan berharap ada ruang dialog dan klarifikasi dari pihak pengurus KONI NTT agar persoalan tersebut tidak semakin melebar. Mereka juga meminta agar pengabdian panjang yang telah diberikan selama bertahun-tahun dapat dihargai dengan sikap yang bijaksana.

Hingga berita ini berkembang di media sosial, belum ada penjelasan resmi dari pihak KONI NTT terkait alasan pemberhentian empat pegawai tersebut. Publik kini menanti klarifikasi serta langkah penyelesaian yang dapat memberikan kepastian bagi semua pihak.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa loyalitas dan pengabdian pekerja seharusnya dibarengi dengan perlindungan hak serta komunikasi yang terbuka dalam setiap pengambilan keputusan di lingkungan organisasi.


Lebih baru Lebih lama